Lagi di taxi bawa anak saya yang paling gede, tiba-tiba Uncle taxinya tanya: 'Where he from?' sambil menunjuk anak saya. Weleh, here we go again! Basi deh! Saya tau apa ujung-ujungnya pertanyaan ini. Seikhlasnya saya jawab: 'I'm from Indonesia.' Not you! Him! Where he from? Waduh, ini Uncle, lha mbok sing selow gitu lho.... Yo wis, saya jawab aja: 'Well, since he came from me, that made him an Indonesian too'. Hayoh siah, sok mo ngomong apa lagi. 'Father Ang Moh, hahh? European, hahh?'. Ngangguk aja deh, toh saya gak punya kewajiban ngasih penjelasan apapun ke dia. 'See, I know, I know!'. Yah, apa kata lo dah... Jangan-jangan dia emang belagu budeg waktu denger anak saya referred to me as Mommy.
Resiko jadi orang Indo di negeri Singa, bawa anak gak ada tampang Jawa kayak emaknya, pasrah aja deh disangka Amah, lha wong negara kita pengekspor tenaga amah tertinggi di samping Philipina. 'From Indonesia? Your boss local or Ang Moh (bule)? You like working here? Your boss nice?'. Lagi-lagi Uncle taxi yang nanya begitu, aduh, gak liat apa nih perut lagi buncit hamil 8 bulan? Mana ada amah boleh hamil? Wis, sabar... sabar...
Sekarang lagi gak hamil gini, saya lebih rentan pada 'penempelan predikat amah secara paksa' by taxi drivers or security guards. Don't get me wrong, it's nothing bad for being an amah, mereka itu pahlawan devisa lho! Kalo gak ada mereka di sini, saya juga bakalan nangis bombay abis! But the fact that I was denied as de facto Mum for my own kid, oh, it hurt dehh...
Makanya satu teman yang punya situasi seperti saya (punya anak yang tampangnya gak mirip emaknya) pernah bilang: That's why, Winda, I refuse (!) to live home without my make-up on, so I won't be mistaken as my son's nanny! Dulu saya cuma nyengir waktu dia bilang gitu, I don't think make-up as solution to this problem. Bergaya keren juga bukan jaminan, lha wong amah-amah itu bisa dandan keren kok on their day-off. Nyonyah kalah!
Btw, peduli amat kalo yang nyangkain saya sebagai amah itu para uncle taxi dan security guards, mungkin mereka cuma bisa menyamaratakan kalo kami yang dari Indo ini ya pastinya amah. Yo wis, sing ikhlas...
Tetaaapppppiiii..., ceritanya dua tahun lalu waktu kita pindah rumah saya juga pindahkan playgroup anak saya. Hari pertama saya nemenin dia di kelas, heran kok para guru itu pada gak friendly ya? Saya simpan kebingungan saya di dalam hati, saya ingat hari itu saya pake capri dan polo shirt -simple, casual deh judulnya-, no make-up of course, karena memang saya gak pernah makeup-an, repot.... No teachers were friendly to me....oooo-kkeee...fineee...., sampe akhirnya saya started satu conversation dengan salah satunya yang at least masih mau bales senyum saya, satu kesimpulan saya, wah, she's ok niy. Lupa apa percakapan kami, tapi saya inget banget waktu dia tanya: 'So, when is the Mommy coming?'. Oh, thank you! Now I know! Pantesan gue dikacangin... Menghela nafas dalam, senyum manis and so proud saya bilang: 'She's here...You're looking at her right now...' Merah padam dia bilang sorry berkali-kali, saya bilang masih sambil senyum: 'No worries, I got that a lot....' . Anak saya cuma sekolah dua minggu di situ, bukan karena emaknya disangka pembantu, tapi karena saya sadar di sekolahnya yang lama punya kurikulum bermain dan belajar yang bagus serta jelas. Jauh dikit gpp, toh anak saya seneng naik school busnya. Jadi asli, sumpeh, no hard feelings... at all. 
Nah, panjang kan daftarnya, ada taxi driver, security guard, plus ibu guru. Hey, did I mention stall owner at Tekka Market? She even asked me how much my salary was. Duhh....